Bacaan Niat Puasa Ramadan Lengkap Arab Latin dan Artinya
![]() |
| Source: jejaknesia.com |
www.jejaknesia.com - Bulan Ramadan adalah momentum spiritual paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Di bulan yang penuh rahmat ini, setiap amal dilipatgandakan pahalanya. Namun, ada satu hal mendasar yang sering kali dianggap sepele padahal menjadi penentu sah atau tidaknya ibadah puasa, yaitu niat. Tanpa niat, puasa tidak sah.
Dalam tradisi fiqih Islam, terdapat dua redaksi niat puasa Ramadan yang populer dibaca oleh umat Muslim. Berikut adalah bacaan lengkapnya:
Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ كُلِّهِ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma syahri Ramadhāna kullihi lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan karena Allah Ta‘ala.”
Penjelasan Niat Sebulan Penuh
Menurut sebagian ulama dalam mazhab Maliki, niat puasa Ramadan boleh dilakukan sekali di awal bulan untuk satu bulan penuh. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa puasa Ramadan merupakan satu kesatuan ibadah yang berkesinambungan.
Namun demikian, sebagian besar ulama dari mazhab Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali berpendapat bahwa niat harus dilakukan setiap malam sebelum fajar untuk setiap hari puasa Ramadan.
Bacaan Niat Puasa Ramadan Harian
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hâdzihis sanati lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa Ramadan tahun ini karena Allah Ta‘ala.”
Mengapa Niat Harian Lebih Dianjurkan
Mayoritas ulama berpegang pada hadis Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Hadis ini menjadi landasan bahwa niat harus dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar agar puasa sah.
Dalil Penting tentang Niat dalam Islam
Niat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Cara Melafalkan Niat Puasa Ramadan yang Benar
1. Waktu Membaca Niat
- Dibaca pada malam hari, setelah Maghrib hingga sebelum Subuh.
- Boleh dibaca setelah shalat Tarawih atau sebelum tidur.
2. Tidak Harus Dilafalkan Keras
Niat pada dasarnya adalah amalan hati. Melafalkan niat dengan lisan hanya membantu menghadirkan kesungguhan dalam hati.
3. Pastikan Hati Mantap
Inti dari niat adalah kesadaran bahwa puasa dilakukan semata-mata karena Allah SWT.
Contoh Praktik dan Tutorial Eksekusi Niat Puasa
Contoh Praktik 1 Niat Sebelum Tidur
Setelah shalat Tarawih, duduk tenang dan baca dalam hati:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hâdzihis sanati lillāhi ta‘ālā.
Rasakan keyakinan bahwa esok hari Anda akan menjalankan puasa dengan penuh kesadaran.
Contoh Praktik 2 Niat Saat Sahur
Sebelum imsak, saat selesai makan sahur, ucapkan niat dalam hati. Pastikan dilakukan sebelum azan Subuh.
Contoh Praktik 3 Niat Sebulan Penuh
Pada malam pertama Ramadan, setelah shalat Tarawih, baca niat sebulan penuh. Namun tetap dianjurkan memperbarui niat setiap malam sebagai bentuk kehati-hatian.
Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari
- Membaca niat setelah azan Subuh.
- Tidak menghadirkan kesadaran dalam hati.
- Menganggap niat hanya formalitas.
Keutamaan Puasa Ramadan
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi bertakwa. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu.
Selain pahala yang besar, puasa juga memberikan manfaat kesehatan seperti detoksifikasi tubuh, meningkatkan metabolisme, serta menstabilkan kadar gula darah jika dilakukan dengan benar.
Niat adalah fondasi dari setiap ibadah. Dalam puasa Ramadan, niat bukan sekadar lafaz, melainkan komitmen batin untuk menjalankan kewajiban dengan penuh keikhlasan. Mayoritas ulama menganjurkan niat setiap malam sebelum fajar untuk memastikan keabsahan puasa.
Dengan memahami bacaan niat secara benar, mengetahui dalilnya, serta mempraktikkannya dengan penuh kesadaran, ibadah puasa menjadi lebih bermakna dan bernilai tinggi di sisi Allah SWT. Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi tentang memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Referensi
- Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183
- HR. Bukhari No. 1
- HR. Muslim No. 1907
- HR. Abu Dawud No. 2454
- Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab
- Ibnu Qudamah, Al-Mughni

Posting Komentar